Showing posts with label aquaculture. Show all posts
Showing posts with label aquaculture. Show all posts

Thursday, November 8, 2007

LOBSTER

Lobster bercapit membentuk sebuah keluarga (Nephropidae, kadangkala juga Homaridae) dari crustacean besar laut. Mereka penting sebagai hewan, bisnis, dan makanan.
Lobster bercapit jangan dibingungkan dengan lobster spiny, yang tidak memiliki capit (chelae) dan tidak berhubungan dekat. Hubungan terdekat dari lobster bercapit adalah lobster reef Enoplometopus dan tiga keluarga dari crayfish air tawar.
Lobster kebanyakan datang dari pesisir timur laut Amerika Utara dengan Canadian Maritimes dan negara bagian AS Maine sebagai produsen terbesar. Mereka ditangkap dengan menggunakan jebakan lobster. Alat tersebut diberi umpan dan diturunkan ke dasar laut. Alat ini membiarkan lobster masuk, namun tidak mungkin bagi lobster besar untuk keluar. Alat ini membuat lobster kecil dapat keluar sehingga bisa mecnegah penangkapan lobster yang berlebihan.


Spesies lobster termasuk:
• Atlantic deep-sea lobster (Acanthacaris caeca)
• Prickly deep-sea lobster (Acanthacaris tenuimana)
• Red lobster (Eunephrops bairdii)
• Sculptured lobster (Eunephrops cadenasi)
• Banded lobster (Eunephrops manningi)
• Cape lobster (Homarinus capensis)
• American lobster (Homarus americanus)
• European lobster (Homarus gammarus)
• Andaman lobster (Metanephrops andamanicus)
• Arafura lobster (Metanephrops arafurensis)
• Armored lobster (Metanephrops armatus)
• Northwest lobster (Metanephrops australensis)
• Caribbean lobsterette (Metanephrops binghami)
• New Zealand lobster (Metanephrops challengeri)
• Formosa lobster (Metanephrops formosanus)
• Japanese lobster (Metanephrops japonicus)
• African lobster (Metanephrops mozambicus)
• Neptune lobster (Metanephrops neptunus)
• Urugavian lobster (Metanephrops rubellus)
• Sculpted lobster (Metanephrops sagamiensis)
• Siboga lobster (Metanephrops sibogae)
• China lobster (Metanephrops sinensis)
• Red-banded lobster (Metanephrops thomsoni)
• Velvet lobster (Metanephrops velutinus)
• Bight lobster (Metanephrops boschmai)
• Mitten lobsterette (Nephropides caribaeus)
• Norway lobster (Nephrops norvegicus)
• Spinetail lobsterette (Nephropsis acanthura)
• Florida lobsterette (Nephropsis aculeata)
• Prickly lobsterette (Nephropsis agassizii)
• Scarlet lobsterette (Nephropsis atlantica)
• Ridge-back lobsterette (Nephropsis carpenteri)
• Gladiator lobsterette (Nephropsis ensirostris)
• Saya de Malha lobsterette (Nephropsis malhaensis)
• Ruby lobsterette (Nephropsis neglecta)
• Pacific lobsterette (Nephropsis occidentalis)
• Rosy (or two-toned) lobsterette (Nephropsis rosea)
• Indian Ocean lobsterette (Nephropsis stewarti)
• Red and white lobsterette (Nephropsis suhmi)
• Grooved lobsterette (Nephropsis sulcata)
• Bellator lobster (Thymopides grobovi)
• Patagonian lobsterette (Thymops birsteini)
• Nilenta lobsterette (Thymopsis nilenta)

Read More......

Lobster Air Tawar

Berbicara mengenai Lobster Air Tawar atau Freshwater Crayfish, berarti berbicara mengenai lebih dari 500 jenis hewan akuatik dari keluarga Astacidae, Cambaridae dan Parastacidae. Mereka tersebar di seluruh dunia, mulai dari Austaralia, Newzealand, Papua, Amerika, Jepang, China, Madagaskar, Amerika dan Eropa.

Meskipun demikian, untuk mempersempit cakupan, baiklah dibicarakan jenis-jenis lobster yang beredar di Indonesia sejauh ini.



Mereka adalah:
  • Cherax destructor
  • Cherax quadricarinatus
  • Procambarus Claarkii
  • dan beberapa spesies lokal asal Irian dari genus Cherax

Cherax dustructor
Cherax destructor merupakan jenis lobster air tawar (LAT) yang paling dikenal diantara 100 jenis LAT yang hidup di Australia. Mereka bisa dijumpai mulai dari daerah New South Wales hingga diselurah dataran benua Australia. Sebaran yang luas menyebabkan mereka mampu beradaptasi mulai dari daerah dingin di danau-danau berair dingin pegunungan Snowy, hingga daerah beriklim panas.

Cherax destructor boleh dikatakan merupakan makanan orang suku asli Australia (aborigin). Setidaknya hal tersebut telah dilakukan sejak 28.000 tahun lalu, berdasarkan temuan-temuan arkeologis setempat.

Pada umumnya C. destructor dijumpai di danau-danau, rawa rawa, billabong, bendungan, saluran irigasi, dan juga disungai-sungai. Mereka termasuk tahan banting. Pada musim kering mereka akan bertahan hidup dengan cara membuat luband didalam tanah. Bahkan mreka mampu membuat lubang hingga kedalaman 5 meter. Paa saat musim penghujan mereka kemudian keluar untuk mencari makan, memijah dan bermigrasi.

Di habitat asalnya, C destructor kadang-kadang disalahkan sebagai penyebabnya runtuhnya bendungan. Hal ini biasanya terjadi apabila dinding bendungan tersebut kurang dari 2 meter, dan sering terjadi perubahan permukaan air, seperti biasa terjadi di sawah. Meskipun demikian kejadian demikian jarang dijumpai pada dam-dam yang ketebalan dindingnya lebih dari 6 meter



Cherax quadricarinatus.
C. quadricarinatus dikenal dengan sebutan Redclaw atau biasa juga disebut sebagai Yabby Queensland Utara. Disebut red claw karena LAT dewasa jenis ini mempunyai warna merah pada capit bagian luarnya, khususnya pada LAT jantan. Mereka umumnya dijumpai di sungai-sungai di Dividing Range.

LAT dengan warna dasar hijua-coklat ini, di daerah asalnya merupakan makanan penduduk setempat. Rasanya lezat apabila disajikan dalam bentuk LAT bakar.

C. quadricarinatus sangat mudah dibedakan dari jenis cherax lainnya. Hal ini dicirikan dalam nama latinnya yaitu quadricarinatus yang artinya mempunyai empat buah lunas (quadri=empat, carinatus = carinae, bentukan menyerupai lunas).

Lobster Air Tawar dari Jenis Red Claw (Cherax Quadricarinatus) ini bila ditinjau dari sisi jenis makanan yang di sajikan oleh Restoran adalah termasuk menu hewan konsumsi pilihan dikalangan menengah ke atas, harga pemasok utuk Restoran harganya lumayan mahal di bandrol IDR 150.000~250.000,-/Kg (isi 10~12 ekor) mempunyai cita rasa yang lebih enak/gurih dibandingkan dengan jenis Lobster Air Laut bila dimasak/digoreng. Dan menurut hasil sebuah penelitian kandungan kolesterol pada Lobster Air Tawar lebih rendah dibandingkan dengan Lobster Air Laut atau jenis udang-udangan yang lainnya. Sehingga sangat aman untuk di konsumsi bagi siapa saja.

Hewan yang habitat asli berasal dari Australia ini mulai di kenal di Indonesia sejak lama dan mulai dikembang biakkan di sejak tahun 1996. Sebagai bahan Komoditas yang mempunyai peluang pasar export dan domestik yang sangat besar, oleh karena hingga sekarang masih sangat tinggi. Quota untuk permintaan suply pasar banyak yang masih belum dapat terpenuhi. Melihat peluang yang demikian amat besar,dan satu hal yang perlu anda ketahui bahwa untuk bisnis ini belum banyak yang menggarap secara serius, sehingga ini adalah merupakan kesempatan bagi yang mau memulai untuk mencapai suatu keberhasilan.

Read More......

TAKSONOMI DAN MORFOLOGI LAT

Taksonomi Lobster Air Tawar :

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Subphylum: Crustacea
Class : Malacostraca
Order : Decapoda
Suborder: Pleocyemata
Infraorder : Astacidea
Superfamily: Parastacoidea
Family : Parastacidae
Genus : Cherax quadricarinatus


Kepala terdapat sepasang antena panjang dan antena pendek. Keduanya berfungsi sebagai sensor makanan dan pendeteksi lingkungannya. Bagian kepala juga dilengkapi dengan capit yang besar dan keras. Fungsinya untuk mempertahankan diri, selain itu capit pada jantan digunakan untuk menarik perhatian betina. Sedangkan capit yang berukuran kecil yang terletak dekat mulut berfungsi untuk mencacah makanan sebelum dimasukkan ke dalam mulut.

Tubuhnya lunak dan memiliki cangkang yang beruas-ruas dan terbuat dari zat khitin. Abdomen lobster air tawar beruas-ruas. Pada abdomen terdapat 4 pasang kaki panjang (kaki jalan) di bagian atas dan 4 pasang kaki pendek (kaki renang)di bagian bawah.

Pada lobster jantan terdapat alat reproduksi berbentuk seperti taji pada sepasang kaki jalan paling bawah. Sedangkan pada lobster betina terdapat tonjolan kecil pada kaki jalan ketiga. Pada lobster betina 4 pasang kaki renang berfungsi untuk memegangi telur yang melekat pada perutnya. Masing masing pasangan kaki tersebut akan bertautan melingkari kumpulan telurnya. Pada saat menggendong telur, kadang-kadang kaki-kaki ini bergerak seperti gerakan mengipas.

Ekor lobster air tawar (uropoda) berbentuk seperti kipas. Lobster bisa berjalan maju maupun mundur, ekornya ditekuk ke arah dalam untuk melindungi telur-telurnya.


Read More......

Saturday, October 27, 2007

Development of Aquaculture in Indonesia


The development of fisheries is basically emphasized on capture fisheries and aquaculture included post harvest. Prior to 1980’s the development of fisheries was emphasized more on capture fisheries rather than on aquaculture. However, started in 1980’s the government has paid more attention on aquaculture development owing to its capability to provide fish for human consumption of hinterland communities. It was evident that introducing freshwater race way pond systems in 1980 was soon adopted by fish farmers. Then banning of trawl fishing in 1980 through the issuance of Presidencial Decree No. 39/1980 has encouraged shrimp culture development in brackishwater.

In 1980’s, cultured shrimp increased rapidly and shrimp was a prime commodity and played an important role in increasing foreign exchange. By the year 1990 mariculture began to develop; even though it was limited to seaweed culture. The foreign exchange increased considerably. And then the development of seaweed culture was followed by a successful development of pearl culture.

Currently the spirit to develop mariculture is gradually increasing because mariculture business especially groupers culture has proved to be profitable and considerably increase foreign exchange.


Anticipating the degradation of fish resources due to over exploitation the government has decided to devide fisheries development into capture fisheries and aquaculture. This is policy to improve renewable fish resources by controlling fishing and encouraging aquaculture.

Indonesia has a totsl potential area devoted for aquaculture of about 26.606.000 Ha comprises 1.165.000 Ha for freshwater aquaculture, 913.000 Ha for brackishwater aquaculture, and 24.528.000 Ha for mariculture. It is expected that Indonesia would be a leading country in producing large amount of cultured fish. In 2000, the existing pond area was 654.351 Ha and total cage culture amounted to 160,189 units. Of the total fish pond area of 654.351 Ha, 235.069 Ha was devoted to freshwater aquaculture, and 419.282 Ha to brackishwater aquaculture. Of the total 160,189 units of fish cages, there were 122.776 units of marine fish cages and 37,413 units of freshwater fish cages. So there is still a large potential and promising areas to be devoted to development of aquaculture in Indonesia. (Source Dirjen Prikanan Budidaya DKP-RI)

Read More......

Monday, October 1, 2007

Karagenan, apaan sich???

Karagenan merupakan molekul besar galaktan yang terdiri dari 100 lebih sebagai unit-unit utamanya. Residu-residu galaktosa tersebut berikatan dengan ikatan α (13) dan ikatan β (14) secara tukar-tukar (cPKelco ApS, 2000). Menurut Guiseley et. alkaragenan adalah polisakarida dengan rantai lurus (linier) yang terdiri dari D-glukosa 3.6 anhidrogalaktosa dan ester sulfat.
Berdasarkan kandungan sulfatnya, karagenan dibedakan menjadi 2 fraksi kappa karagenan dengan kandungan sulfat kurang dari 28% dan iota karagenan dengan kandungan sulfat lebih dari 30%. Sedangkan menurut Peterson and Johnson dalam Anggraini, 2004), berdasarkan struktur pendulangan unit polisakarida, karagenan dapat dibagi menjadi tiga fraksi utama (k-(kappa), λ-(Lambda), dan ί-(iota) karagenan. Secara prinsip fraksi-fraksi karagenan ini berbeda dalam nomor dan posisi grup ester.
Berbagai produk karagenan yang terdapat di pasar antara lain adalah :
1.Karagenan murni (refined carrageenan) dalam bentuk kappa, iota, dan lambda.
2.Kombinasi karagenan murni
3.Kombinasi karagenan murni dan garam, gula atau bahan lain.
4.Karagenan semi-murni (semi refined carrageenan)
5.Kombinasi karagenan murni dan karagenan semi-murni
6.Kombinasi karagenan semi murni dan garam, gula atau bahan lain.
7.Kombinasi karagenan murni, karagenan semi-murni dan garam, gula atau bahan lain.

Karagenan mempunyai kemampuan yang unik, yaitu dapat membentuk berbagai variasi gel pada temperatur ruang. Larutan karagenan dapat mengentalkan dan menstabilkan partikel-partikel sebaik pendispersian koloid dan emulsi air/minyak (Snapshot Solutions, 1996 dalam Anggraini, 2004).

Aplikasi Karagenan dalam berbagai bidang industri :

Beer/wine/vinegar : Mempercepat dan memperbaiki kejernihan
Chocolate milk drink : Stabilizer
dan memperbaiki viskositas
Ice cream :
Mencegah pembentukan kristal es dan memperbaiki rasa
Sauces, dressing :
Mengentalkan dan memperbaiki viskositas
Kertas : Memperbaiki penyerapan tinta dan memperkuat daya robek
Tekstil dan karpet :
Mengontrol sifat-sifat rheologi tinta dalam Jet printing machine
Pasta gigi :
Stabilizer
Penyegar ruangan : Gelling agent
Daging dan unggas : Penstabil emulsi air/minyak selama proses preparasi, pemasakan dan penyimpanan serta mencegah denaturasi protein
Mi :
Meningkatkan daya tahan akibat over cooking dan dapat mengurangi jumlah pemakaian telur tanpa penurunan kualitas
Lapisan pembungkusan : Pengontrol kelembaban

Sumber : (SnapShot Solutions, 1996 dalam Anggraini, 2004)

Semakin meluasnya aplikasi karagenan dalam berbagai bidang dan sifatnya yang aman dan tidak beracun, serta keunikan sifat yang dimiliknya menyebabkannya sampai saat ini belum dapat digantikan oleh zat tambahan lainnya. Permintaan pasar terhadap produk karagenan diperkirakan akan terus meningkat sekitar 5-10% per tahun (Fu Jun Food Co, 2003 dalam Anggraini, 2004)

Proses Produksi Karagenan

Proses produksi karagenan pada dasarnya terdiri atas proses penyiapan bahan pemisahan karagenan dari ekstraknya, pemurnian, pengeringan, dan penepungan. Penyiapan bahan baku meliputi proses pencucian rumput laut untuk menghilangkan pasir, garam mineral dan benda asing yang masih melekat pada rumput laut.
Ekstraksi karagenan dilakukan dengan menggunakan air panas atau larutan alkali panas (Food Chemical Codex, 1981 dalam Anggraini, 2004). Penggunaan alkali mempunyai dua fungsii, yaitu membantu ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna dan mempercepat eliminasi 6-sulfat dari unit monomer menjadi 3,6-anhidro-D-galaktosa sehingga dapat meningkatkan kekuatan gel dan reaktifitas produk terhadap protein (Guiseley dalam Anggraini, 2004). Menurut Istini et. al. Dalam Iza (2001) suasana alkalis dapat diperoleh dengan menambahkan larutan basa misalnya NaOH, atau KOH sehingga pH larutan mencapai9,0 – 9,6. Jumlah air yang digunakan dalam ekstraksi sebanyak 30 sampai 40 kali dari berat rumput laut kering (Style dalam Anggraini, 2004). Mukti (1987) dalam Anggraini (2004) mengekstrak E. cottonii pada pH 8 – 10 dan 95Cselama 14- 24 jam. Rendemen karagenan tertinggi diperoleh pada pH 10 waktu ekstraksi 18 jam.
Pemisahan karagenan dari ekstraknya dilakukan dengan cara penyaringan dan pengendapan. Penyaringan ekstrak karagenan umumnya masih menggunakan saringan konvensional, yaitu kain saring dan filter press, dalam keadaan panas dengan dimaksudkan untuk menghindari pembentukan gel (Chapman dalam Anggraini, 2004). Pengendapan karagenan dapat dilakukan antara lain dengan metode gel-press, freezing, KCL-press, atau pengendapan dengan alkohol (Marcel Trading Corporation, 1999 dalam Anggraini, 2004). Sedangkan pada penelitian Murdinah dkk (1994) dalam Anggraini, 2004), menunjukkan bahwa pemisahan karagenan menggunakan garam KCL berpengaruh terhadap kenaikan rendemen, kadar abu dan kadar abu tak larut asam, sedangkadar air, kadar posfat dan viskositaskaragenan cenderung menurun.
Pengeringan karagenan basah dapat dilakukan dengan oven atau penjemuran (Gliksman dalam Anggraini, 2004). Selain itu Gliksman dalam Anggraini (2004), setelah pengendapan karagenan, proses pengeringan dapat juga dilakukkan dengan menggunakan drum dryer. Karagenan kering tersebut kemudian ditepungkan, diperbanyak, distandarisasi dan dicampur, kemudian dikemas dalam wadah yang tertutup rapat (Guiseley et al. dalam Anggraini, 2004). Produk karagenan umumnya dikemas dalam double-decked plastic bag, dengan ukuran kemasan 25 kg (eBigChna, 2002)

Sumber :
Dari berbagai sumber
Thank A lot for Anggraini____(u are the best)

Read More......

Parameter dasar budidaya perairan

Kelangsungan Hidup (SR / Survival Rate )

Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup, rumus mencari SR adalah :

SR= Nt/No X 100%

Keterangan :

SR : Survival Rate

Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan)

N0 : Jumlah ikan awal (saat penebaran)

Pertumbuhan Panjang

Pertumbuhan panjang adalah perubahan panjang ikan pada awal penebaran hingga saat pemanenan. Rumus untuk mencari pertumbuhan panjang ikan adalah :

P = Pt – Po

Keterangan :

P : Pertumbuhan panjang (cm)

Pt : Panjang akhir ikan (cm)

P0 : Panjang awal ikan (cm)

Pertumbuhan Mutlak

Pertumbuhan mutlak adalah laju pertumbuhan total ikan. Rumus untuk mencari pertumbuhan mutlak adalah :

GR = (Wt-Wo)/t

Keterangan :

GR : Growth Rate / pertumbuhan mutlak

Wt : bobot rata – rata akhir (gr/ekor)

W0 : bobot rata – rata awal (gr/ekor)

t : waktu (hari)

Pertumbuhan Spesifik

Pertumbuhan spesifik adalah laju pertumbuhan harian. Rumus untuk mencari pertumbuhan spesifik adalah akar dari pembagian bobot rata – rata akhir dengan bobot rata – rata awal kemudian dikurangi 1 dan hasilnya dikali 100 %. Rumus:

SGR = [ ,/(Wt/Wo) -1] x 100%

Keterangan :

SGR : Spesific Growth Rate / Pertumbuhan Spesifik

Wt : bobot rata – rata akhir ( gr/ekor )

Wo : bobot rata – rata awal ( gr/ekor )

t : waktu (hari)




Read More......

Monday, September 3, 2007

FisRep one

Gonochorist adalah dalam satu jenis (spesies), jenis kelamin : telur dan sperma dihasilkan oleh individu yang berbeda. Jadi, terdapat individu jantan dan individu betina

Hermaprodit adalah
jenis kelamion : telur dan sperma dihasilkan oleh satu individu


Ikan Nila nama latinnya
Oreocromis niloticus
Ikan Mas nama latinnya Cyprinus carpio
Ikan Lele nama Latinnya Clarias sp.
Ikan Belida nama latinnya Notopetrus chitala
Ikan Baung nama latinnya Mystus spp.
Ikan Bawal nama latinnya Colossoma macropomum
Ikan Cupang nama latinnya Betta picta
Ikan tiger nama latinnya Barbus tetrazona
Ikan Diskus nama latinnya Symphysodon discus
Ikan Zebra nama latinnya Pseudotrophus zebra
Lobster air tawar (Red Claw) nama latinnya Cherax quadricarinatus
Rajungan nama latinnya Portunus pelagicus
Kura-kura nama latinnya Chelonia sp.
Udang Vannamei nama latinnya Penaeus vannamei.
Belut Jepang (Unagi) nama latinnya Anguilla japonica
Kerapu Bebek nama latinnya Cromileptes altivelis
Napoleon nama latinnya Cheilunus undulatus
Kakap putih nama latinnya Lates calcarifer
Tiram mutiara nama latinnya Pinctada maxima
Kijing taiwan nama latinnya Anodota woodiana
Rumput Laut nama latinnya Eucheuma sp. Gracilaria sp.




Read More......

Sunday, August 19, 2007

IKAN HIAS INDONESIA

IKAN – IKAN HIAS YANG BANYAK TERDAPAT DI INDONESIA BESERTA NAMA LATINNYA :

  1. Ikan Botia (Botia macracanthus)
  2. Ikan Sepat Mutiara (Trichogaster leeri)
  3. Ikan Peyang/Arwana/Tangkulasa (Sclerophages formosus)
  4. Ikan Cupang (Betta picta)
  5. Ikan Oskar (Astronatus cellatus)
  6. Ikan Manvis/Angelfish (Pterophylum sclare)
  7. Ikan Zebra (Pseudotrophus zebra)
  8. Ikan Neon (Pracheinodon innesi)
More...


Read More......

IKAN AIR LAUT di INDONESIA

IKAN – IKAN AIR LAUT YANG BANYAK TERDAPAT DI INDONESIA BESERTA NAMA LATINNYA :
1.Ikan Tenggiri (Scomberomerus commersoni)
2.Ikan Tongkol (Auxis sp.)
3.Ikan Cangkurengan (Megalaspis cordyla)
4.Ikan Layur (Trichurus savala)
5.Ikan Layang (Decapterus russeli)
6.Ikan Selar Kuning (Caranx leptolepis)
7.Ikan Kakap Hitam (Lates calcarifer)
8.Ikan Kakap Merah (Lutjanus argentimaculaticus)
9.Ikan Kerapu Lumpur (Ephinephilus tauvina)
10.Ikan Teri (Stelophorus indicus)
11.Ikan Belanak (Mugil cephalus)
12.Ikan Buntal Landak (Dyodon hystrix)
13.Ikan Bawal (Pampus argentus)
14.Ikan Bawal hitam (Formio niger)
15.Ikan Pari (Dasyatis sp.)
16.Ikan Buntal Kelapa (Tetraodon reticulus)
17.Ikan Julung-julung (Hemirhampus far)
18.Ikan Sebelah (Psettodes erumei)
19.Ikan Kembung Betina (Rastralliger neglutus)
20.Ikan Kembung Jantan (Rastralliger kanagurta)
More




Read More......

Ikan Air Tawar di Indonesia

IKAN – IKAN AIR TAWAR YANG BANYAK TERDAPAT DI INDONESIA BESERTA NAMA LATINNYA :
1.Ikan Mas (Cyprinus carpio)
2.Ikan Tawes (Punctius javanicus)
3.Ikan Sepat Siam (Trichogaster pectoralis)
4.Ikan Sepat Rawa (Trichogaster trichopterus)
5.Ikan Gabus (Channa striata)
6.Ikan Mujair (Oreocromis mossambicus)
7.Ikan Nila (Oreocromis niloticus)
8.Ikan Belut (Monopterus albus)
9.Ikan Gurame (Osphronemus gouramy)
10.Ikan Lele (Clarias batrachus)
11.Ikan Jambal (Pangasius pangasius)
12.Ikan Betok (Anabas testudineus)
13.Ikan Nilem (Osteochilus haselti)
14.Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata)
15.Ikan Tambakan (Helostoma temminckii)
More....

Read More......

Monday, June 11, 2007

GINOGENESIS Ikan Lele (Clarias Sp)

Pendahuluan

Partenogenesis adalah satu-satunya proses reproduksi yang sama sekali tak memerlukan peran pejantan. Keturunan partenogenesis akan betina semua jika dua kromosom yang sama membentuk jenis kelamin betina (sistem kromosomnya XX adalah betina dan XY jantan), salah satunya adalah ginogenesis.
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturnkan. Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan.
Ginogenesis buatan dapat dilakukan dengan mutagenesis sperma dengan sinar ultraviolet (UV) dan kejutan panas. Radiasi yang terjadi merupakan proses penyinaran dengan menggunakan bahan mutagen untuk menghasilkan mutan. Sinar ultraviolet (UV) merupakan radiasi yang juga merupakan sinar tidak tampak yang mempunyai panjang gelombang 200-380 nm.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari teknik ginogenesis dengan kejutan panas.

Metodologi Ginogenesis

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain : akuarium, pemanas air, stop watch, termometer, lempengan kaca, bulu ayam, mangkuk atau baskom, kertas tissue, alat bedah, rak plastik, box UV, dan aerator. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan meliputi : induk ikan lele jantan dan betina, larutan fisiologis, dan ovaprime.
Pertama-tama dengan menyuntikan ovaprime pada induk lele baik jantan dan betina. Tujuan penyuntikan yaitu agar gonad menjadi cepat matang. Selanjutnya, dilakukan stripping (pengurutan) terhadap induk betina lele untuk menmengeluarkan sel telur. Sedangkan induk jantan, perutnya dibedah untuk diambil gonadnya.yang berisi sperma. Kemudian materi genetik dalam sperma ikan lele dinonaktifkan dengan sinar ultraviolet (UV). Selanjutnya, menentukan waktu yang tepat ketika materi genetik dalam sperma mati tetapi sperma tersebut masih motil. Setelah mendapatkan sel telur dan sperma, keduanya direndam terlebih dahulu dengan menggunakan larutan fisiologis. Kemudian sperma dan ovum dicampur dalam mangkuk dan dikocok dengan pelan menggunakan bulu ayam.
Menyiapkan tiga akuarium yang mempunyai suhu yang berbeda pada akuarium kedua. Akuarium yang pertama dan ketiga merupakan akuarium dengan suhu ruang. Sedangkan suhu pada akuarium kedua, yaitu dengan membuat suhu akuarium menjadi 40oC. 400-500 butir telur dibagi ke dalam lempeng-lempeng kaca yang di letakkan ke dalam akuarium satu. Menunggu selama 2,5 menit dari awal pembuahan, lalu telur yang menempel dalam lempengan kaca diletakkan dalam rak plastik untuk memudahkan pemindahan. Lempengan kaca ini berfungsi sebagai tempat melekatnya sel telur. Kemudian memasukkan ke dalam akuarium kedua dan dibiarkan selama 3 menit. Lalu memindahkannya ke akuarium ketiga. Selanjutnya dipindahkan ke akuarium pemeliharaan yang telah diberi methylen blue dan diaerasi. Ikan perlakuan dipelihara hingga menjadi larva atau benih dan siap diamati tingkat keberhasilannya.

Pembahasan

Ginogenesis merupakan keturunan yang dihasilkan melaui mekanisme partenogenesis, tapi telur membutuhkan rangsangan dari sperma untuk berkembang. Namun, sel sperma tidak menyumbangkan materi genetik apa pun pada anak.
Sebelum melakukan ginogenesis buatan dengankejutan suhu, dilakukan penyuntikan induk ikan lele (Clarias sp.) dengan Ovaprime, dengan tujuan mempercepat pematangan gonad. Menurut King dan young (2001) dalam Maftucha (2005), ovaprime merupakan produk yang mengandung 20µg D-Arg6, Pro9-Net sGnRH dan 10 mg domperidone per ml propylene glycol. Ovaprim telah teruji dan terbukti efektif pada ikan, dimana secar signifikan mendorong pematangan tanpa mempengaruhi kemampuan hidup dan fekunditas suatu ikan.
Proses selanjutnya adalah menghancurkan materi genetik sperma dengan sinar ultraviolet (UV), dengan tujuan menonaktifan material genetik sperma melalui radiasi dengan bahan mutagen sehingga sperma hanya mampu merangsang perkembangan telur tanpa menurunkan sifat genetik. Dunham (2004) dalam Yusrizal (2004) menyatakan bahwa bahan mutagen yang dapat merusak gen pada sperma ada bermacam-macam yaitu sinar gamma, sinar ultraviolet (UV), dan sinar X.
Setelah peradiasian sinar UV dilakukan pengecekan sperma. Hal tersebut untuk melihat motilitas sperma. Jika sperma motil tanpa materi genetik di dalamnya maka dapat dilakukan perlakuan ginogenesis selanjutnya. Jika sperma itu nonmotil atau mati maka ginogenesis tidak dapat terjadi yang terjadi hanya diploidisasi biasa.
Sel sperma motil tanpa materi genetik yang di dapat dicampurkan dengan sel telur. Tujuannya untuk melakukan pembuahan. Pada proses ini sperma bergerak mencari sel telur yang akan dibuahi.
Kemudian dilakukan kejutan suhu, perlakuan ini bertujuan untuk mencegah pengurangan kromosom betina pada proses perkembangan telur yang akhirnya dapat menghasilkan zigot yang diploid dan homozigot sebab pada dasarnya embrio ginogenetik adalah haploid (Purdom dan Lincoln, 1973 dalam Suhartono, 1992). Hollebecq et al., (1986) dalam Suhartono (1992) yang menyatakan bahwa pembentukkan diploid ginogenetik dengan menggunakan kejutan panas lebih baik dibandingkan dengan menggunakan kejutan dingin. Lama kejutan, suhu dan waktu awal kejutan yang diberikan setelah pembuahan untuk tiap jenis ikan berbeda-beda (Sumantadinata et al., 1990 dalam Suhartono, 1992)
Ginogenesis secara spontan dapat terjadi akibat tertahannya polar body II oleh spermatozoa. Hal ini disebabkan pada saat polar body II akan keluar bertabrakan dengan spermatozoa yang akan masuk ke dalam mikrofil sehingga polar body II tidak jadi keluar dan spermatozoa terpental keluar, akibatnya gamet jantan digantikan oleh polar body II sehingga ploidi tetap dua. Sedangkan pada ginogenesis buatan dilakukan dengan cara memanipulasi kromosom (Purdom, 1983 dalam Yusrizal, 2004). Menurut Sumantadinata et al., (1990) dalam Suhartono (1992) Diploid ginogenetik meiotik diperoleh dari tertahannya polar body II oleh kejutan panas pada saat meiosis kedua sedangkan diploid ginogenetik mitotik diperoleh akibat tertahannya pembelahan pertama sel sehingga sel yang terbentuk menjadi diploid.

Daftar Pustaka

Maftucha, Lulu. 2005. Pemijahan Secara Buatan Pada Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. Dengan Penyuntikan Ovaprim. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Suhartono. 1992. Penampilan Generasi Kedua Ginogenetik Diploid Mitotik (G2N-Mitotik) Ikan Mas (Cyprinus carpio) Kumpay. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Yusrizal. 2004. Ginogenesis Ikan Sumatra (Puntius tetrazona; Blecker) Dengan Umur Zygot Yang Berbeda Pada Saat Kejutan Panas. Skripsis. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap anda dapat mencari di SEARCH pada akhir halaman web ini (paling bawah). Masukan keywordnya

Read More......

TRIPLOIDISASI pada Ikan Lele (Clarias sp)

Pendahuluan

Pengelolaan budidaya ikan (khususnya ikan lele) perlu memperhatikan efisiensi dan produktivitas usaha serta kualitas ikan. Hal ini harus diimbangi dengan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas induk maupun benih ikan mas. Saat ini disinyalir telah terjadi penurunan kualitas induk maupun benih ikan lele yang dipelihara oleh petani ikan. Beberapa usaha maupun penelitian telah dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas (produksi) dan perbaikan serta peningkatan kualitas genetik ikan lele seperti program seleksi, manipulasi jenis kelamin melalui perlakuan hormonal maupun manipulasi kromosom.
Poliploidisasi merupakan salah satu metode manipulasi kromosom untuk perbaikan dan peningkatan kualitas genetik ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang mempunyai keunggulan, antara lain: pertumbuhan cepat, toleransi terhadap lingkungan dan resisten terhadap penyakit. Induksi poliploid dalam budidaya ikan sangat menarik perhatian masyarakat petani ikan maupun para peneliti dibidang perikanan. Poliploidisasi pada ikan dapat dilakukan melalui perlakuan secara fisik seperti
melakukan kejutan (shocking) suhu baik panas maupun dingin, pressure (hydrostatic pressure) dan atau secara kimiawi untuk mencegah peloncatan polar body II atau pembelahan sel pertama pada telur terfertilisasi (Thorgaard, 1983; Yamazaki, 1983; Carman et al., 1992; Shepperd dan
Bromage, 1996 dalam Mukti, 2001 ).
Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi dengan proses atau kejadian terbentuknya individu dengan kromosom lebih dari dua set. Triploidisasi telah dilakukan dan digunakan untuk meningkatkan pertumbuh ikan.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari teknik triploidisasi dengan menggunakan pengaruh kejutan suhu panas terhadap keberhasilan poliploidisasi pada ikan lele.

Metodologi Triploidisasi

Alat-alat yang digunakan pada percobaan triploidisasi ikan lele antara lain : akuarium, pemanas air, stop watch, termometer, lempengan kaca, bulu ayam, mangkuk atau baskom, kertas tissue, alat bedah, rak plastik, dan aerator. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan meliputi : induk ikan Lele jantan dan betina, larutan fisiologis, dan ovaprime.

Pertama-tama dengan menyuntikan ovaprime pada induk lele baik jantan dan betina. Tujuan penyuntikan yaitu agar gonad menjadi cepat matang. Selanjutnya, dilakukan stripping (pengurutan) terhadap induk betina lele untuk menmengeluarkan sel telur. Sedangkan sel sperma didapatkan dari induk jantan dengan cara membedah ikan untuk diambil spermanya. Setelah mendapatkan sel telur dan sperma, keduanya direndam terlebih dahulu dengan menggunakan larutan fisiologis. Kemudian sperma dan ovum dicampur dalam mangkuk dan dikocok dengan pelan menggunakan bulu ayam.
Menyiapkan tiga akuarium yang mempunyai suhu yang berbeda pada akuarium kedua. Akuarium yang pertama dan ketiga merupakan akuarium dengan suhu ruang. Sedangkan suhu pada akuarium kedua, yaitu dengan membuat suhu akuarium menjadi 40oC. 400-500 butir telur dibagi ke dalam lempeng-lempeng kaca yang di letakkan ke dalam akuarium satu. Menunggu selama 2,5 menit dari awal pembuahan, lalu telur yang menempel dalam lempengan kaca diletakkan dalam rak plastik untuk memudahkan pemindahan. Lempengan kaca ini berfungsi sebagai tempat melekatnya sel telur. Kemudian memasukkan ke dalam akuarium kedua dan dibiarkan selama 3 menit. Lalu memindahkannya ke akuarium ketiga. Selanjutnya dipindahkan ke akuarium pemeliharaan yang telah diberi methylen blue dan diaerasi. Ikan perlakuan dipelihara hingga menjadi larva atau benih dan siap diamati tingkat keberhasilannya.

Pembahasan

Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi dengan proses atau kejadian terbentuknya individu dengan kromosom lebih dari dua set. Triploidisasi telah dilakukan dan digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
Teknik triploidisasi dapat mengunakan dua pelakuan, yaitu perlakuan fisika dan kimia. Menurut Arai (2001) dalam Risnandar (2001) penggunaan perlakuan fisika dan kimia sesaat setelah dimulainya pembuahan merupakan cara yang relatif mudah dalam triploidisasi. Namun, yang biasa dilakukan adalah perlakuan fisika. Perlakuan kimia menggunakan sitokalasin B atau bahan kimia lain jarang dilakukan.
Di antara perlakuan fisika, kejutan suhu telah digunakan secara luas (Carman, 1990 dalam Risnandar, 2001). Hal ini disebabkan karena kejutan suhu mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kejutan suhu ini bisa berupa kejutan yang lebih dingin dari suhu normal. Menurut Chourrout (1986) dalam Risnandar (2001), kejutan panas mempunyai kepraktisan yaitu dapat dilakukan untuk telur dalam jumlah yang besar, untuk usaha komersil. Di samping itu kejutan panas mudah dilakukan dan tidak membutuhkan keahlian khusus. Purdom (1983) dalam Risnandar (2001) menambahkan bahwa kejutan panas juga memerlukan waktu yang lebih singkat daripada kejutan dingin.
Thorgaard (1983) dalam Mukti (2001) menjelaskan, pendekatan praktis untuk induksi poliploidi melalui kejutan panas merupakan perlakuan aplikatif sesaat setelah fertilisasi (untuk induksi triploidi) atau sesaat setelah pembelahan pertama (untuk induksi tetraploidi) pada suhu lethal. Kejutan suhu selain murah dan mudah juga efisien dapat dilakukan dalam jumlah banyak (Rustidja, 1991 dalam Mukti, 2001).
Don dan Avtalion dalam Risnandar (2001), menyatakan bahwa tiga parameter yang berhubungan dengan perlakuan kejutan panas adalah umur zigot waktu pelaksanaan kejutan, suhu kejutan dan lama perlakuan kejutan. Pemilihan umur zigot waktu pelaksanaan, suhu dan lama waktu kejutan yang tepat adalah spesifik untuk masing-masing spesies (Carman, 1990 dalam Risnandar, 2001).
Prinsip pemberian kejutan suhu pada telur yang telah dibuahi adalah mencegahnya keluarnya badan kutub II pada saat pembelahan meiosis II. Dengan demikian kromosom telur yang telah diploid ditambah seperangkat (Purdom, 1983 dalam Risnandar, 2001), sehingga menjadi tiga perangkat.
Ikan-ikan triploid merupakan ikan-ikan secara genetik mempunyai satu set tambahan kromosom, sehingga pada setiap sel tubuhnya memiliki tiga set kromosom. Dua set kromosom adalah kromosom telur dan satu set kromosom sperma (Allen, 1987 dalam Risnandar, 2001)
Suryo (1990) dalam Mukti (2001) menjelaskan bahwa individu tetraploid merupakan individu yang fertil dan mempunyai laju pertumbuhan yang lebih baik bila dibandingkan dengan spesies diploid. Individu tetraploid mempunyai kemampuan di dalam pembelahan sel yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan normal diploid, sehingga ikan tetraploid akan mempunyai jumlah sel yang lebih banyak jika dibandingkan dengan ikan normal.

Daftar Pustaka

Mukti, Ahmad Taufiq, Rustidja , Sutiman Bambang Sumitro dan Mohammad Sasmito Djati. 2001. Poliploidisasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.). Biosain, Volume. 1 No. 1

Risnandar, Dian. 2001. Pengaruh Umur Zigot Pada Saat Kejutan Panas Terhadap Tingkat Keberhasilan Triploidisasi, Serta Kelangsungan Hidup Embrio Dan Larva Ikan Jambal Siam (Pangasius hypophthalmus). Skripsi. Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap tentang Triploidisasi anda dapat mencari di SEARCH pada akhir halaman web ini (paling bawah). Masukan keywordnya

Read More......

Tuesday, May 8, 2007

Pemeriksaan Gonad Ikan

Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah penting. Karena hal tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam kegiatan budidaya, termasuk dalam merekayasa utnuk mendapatkan produksi ikan yang maksimum. Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan untuk menguji hasil ginogenesis dan androgenesis.
Teknik pembedaan jenis kelamin dapat dilakukan dengan pewarnaan gonad menggunakan larutan asetokarmin. Larutan ini berfungsi untuk memudahkan identifikasi gonad ikan. Metoda ini memiliki beberapa kelebihan antara lain praktis, mudah, tidak perlu peralatan khusus dan relatif murah. Identifikasi gonad untuk ikan dewasa dapat dilakukan dengan mudah karena ukuran gonad yang relatif besar, namun untuk ikan kecil biasanya harus melalui metoda khusus. Penentuan jenis kelamin dipengaruhi oleh dua faktor yaitu lingkungan dan genetis.

Menurut Ronaldson dan Hunter, (1987) dalam Hendriana, (2006) perkembangan gonad atau oogenesis ialah transformasi oogonia menjadi oosit. Komponen utama oosit berasal dari senyawa vitelogenin berbobot tinggi berasal dari darah yang disintesis dalam hati.
Secara garis besar gonad dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad dan tahap pematangan gonad (Lagler et al., 1977 dalam Khum 1998). Dalam pertumbuhan gonad ini dapat ditentukan ciri-ciri gonad jantan dan betina secara hihistologis. Gonad betina atau ovarium berbentuk bulat dan oval. Di dalam lamella terdapat septa sebagai penunjang sitoplasma lebih tebal dan terdapat beberapa nukleus. Warna gonad kekuningan dan memiliki ukuran gonad lebih besar dari gonad jantan. Sedangkan gonad jantan didomonasi jaringan ikat dan terdapat tubulus seminifer. Gonad jantan berukuran lebih kecil dan menyebar merata serta berwarna lebih putih dari gonad betina (Syandri, 1996 dalam Kham 1998).
Penentuan tingkat kematangan gonad dapat dilakukan secara morfologis dan histologis. Tingkat secara morfologis dilihat dari bentuk, panjang, berat dan warna serta perkembangan gonad melalui fase perkembangan gonad (Effendie, 1997 dalam Siregar, 1999).
Perbedaan jenis kelamin ditentukan oleh faktor dalam dan luar. Faktor dalam berupa jenis kelamin dan hormon sedangkan faktor luar ditentukan oleh suhu, pakan, intensitas cahaya, pH, nitrogen dan metabolitnya, alkalinitas, kesadahan, dan zat buanganyang berbahaya bagi kehidupan ikan. Faktor luar yang sering dilakukan untuk menentukan jenis kelamin ikan dalam budidaya adalah pakan (Watanabe, 1984 dalam Kham, 1998). Kualitas pakan yang diberikan pada induk ikan akan mempengaruhi fekunditas, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap penentuan jenis kelamin adalah suhu. Suhu tinggi membuat masa sensitive ikan lebih cepat terjadi. Ini berarti ikan lebih senag memijah pada suhu tinggi. Suhu juga mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap diferensiasi kelamin.(Smith et al dalam Barmudi, 2005).
Menurt Nikolsky (1963) dalam Atmaja (2005) akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan. Ukuran ikan jika pertama kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan dan ketersediaan pakan (Effendie, 1997 dalam Atmaja, 2005).

Read More......

Thursday, April 26, 2007

Kontraksi Otot Jantung Ikan



Jantung merupakan suatu pembesaranotot yang spesifik dari pembuluh darah atau suatu struktur muskular yang bentuknya menyerupai kerucut yang dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan terdapat di bagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut.


Jantung pada makhluk hidup berbeda-beda berdasarkan strukturnya. Jantung pada vertebrata misalnya ikan, mempunyai jantung yang terdiri dari dua kamar, yakni satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Jantung pada ikan amphibia danreptil mempunyai 3 kamar utama yang terdiri dari 2 atrium dan1 ventrikel. Jantung pada manusia, mamalia dan burung mempunyai empat kamar yakni dua kamar antrium dan dua kama ventrikel
Ikan mempunyai degupan jantung sama seperti manusia. Ikan emas mempunyai purata 70 degupan jantung seminit. Manusia mempunyai purata antara 60 sehingga 100 degupan jantung seminit dalam keadaan mereka berehat. Anak ikan dan ikan yang kecil mempunyai degupan jantung yang lebih laju berbanding ikan tua dan besar. Degupan jantung ikan menjadi lambat apabila berada dalam air yang sejuk berbanding dalam air yang agak panas. Jangka hayat ikan bergantung kepada spesiesnya. Ada ikan yang hanya boleh hidup kurang setahun tetapi ada yang boleh hidup lebih 100 tahun.

Read More......

Tuesday, April 3, 2007

FLUKTUASI ASIMETRI

Fluktuasi asimetri adalah perbedaan antara karakter sisi kiri dan sisi kanan yang menyebar secara normal dengan rataan mendekati nol sebagai akibat dari ketidakmampuan individu untuk berkembang secara tepat dan normal (Van Valen, 1962).

Fluktuasi asimetri ini dapat merefleksikan dari perkembangan yang tidak stabil dari suatu individu organisme sehingga dapat menimbulkan perbedaan fenotip.

Pada ikan, peningkatan fluktuasi asimetri dapat diamati melalui jari-jari sirip perut, jari-jari sirip dada, tapis insang atas bagian bawah serta pori-pori rahang atau mandibular pores.
Dalam mengamati dan menganalisis perkembangan ketidakstabilan organisme, dapat menggunakan tekhnik fluktuasi asimetri karena relatif sederhana dan tidak memerlukan alat yang rumit. Fluktuasi asimetri merupakan tekhnik analisa perkembangan ketidakstabilan organisme melalui pendekatan heterozigositas yang dapat menunjukkan adanya perbedaan kestabilan perkembangan seperti halnya tekhnik elektroforesis dengan analisis jumlah loci heterozigot.


Menurut Koehn dan Shumwai in Leary, et. al. (1985) bahwa individu yang homozigot kurang efisien dalam memproduksi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang lambat, jumlah ciri m
eristik yang lebih kecil dan adanya asimetri.

Asimetri adalah perubahan ukuran bentuk dan jumlah ciri-ciri morfologis tubuh, yang meliputi sifat-sifat meristik dan morfometrik tubuh bagian kiri dan kanan (Leary et. al., 1983)

Asimetri terjadi karena adanya ketidakmampuan suatu organisme untuk berkembang secara normal dan dapat digunakan untuk mengukur homeostatis/stabilitas perkembangan individu yang homozigot dan heterozigot (Leary et. al., 1983 dan 1985). Individu heterozigot mempunyai tingkat stabilitas perkembangan yang tinggi (Soule; Vrinjenhoek and Lerman; Angus
and Schultz; Leary et.al. in Swain, 1987).

Analisa fluktuasi bilangan (Number) yaitu jumlah individu asimetri yang diketemukan dalam pengamatan dibagi dengan banyaknya sampel yang diamati.
Rumus :





Keterangan :
FAn = fluktuas
i asimetri bilangan
Zi = Jumlah individu asimetri untuk ciri meristik tertentu.
n = Jumlah seluruh sampel yang diamati

Fluktuasi asimetri bilan
gan besaran (Magnitude) yaitu nilai yang didapat dari jumlah selisih karakter yang diamati pada sebelah pada sebelah kiri dan kanan dibagi dengan total jumlah sampel yang diamati.
Rumus :

Keterangan :
FAm = fluktuasi asimetri besaran
Xi = Jumlah karakter sisi kiri
Yi = Jumlah karakter sisi kanan
N = Jumlah seluruh sampe
l yang diamati

Dari masing- masing karakter yang diamati dapat dicari nilai fluktuasi asimetri gabungan (Overali). Fluktuasi asimetri gabungan merupakan hasil penjumlahan nilai fluktuasi asimetri dari semua karakter meristik bilateral yang diamati.
Rumus : FAgab = FAn + Fam
Keterangan :
FAgab = fluktuasi asimetri besaran
FAn = fluktuasi asimetri bilangan
FAm = fluktuasi asimetri besaran



Read More......

Monday, March 26, 2007

Osmoregulasi , ikan uji : ikan nila dan ikan mas

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah total material pada dalam gram yang terdapat dalam 1 kg air laut, dimana seluruh karbonat telah dikonversi menjai oksida, bromida dan iodida diganti oleh klorin dan seluruh materi organik telah dioksidasi sempurna (Sverdrup et. al, 1942).

Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion yang melewati insang dan pada beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam (Stickney, 1979 dalam Bestian, 1996). Sedangkan menurut Kinne (1964) dalam Bestian (1996), kemampuan osmoregulasi bervariasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip.

Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal (Raharjo, 1970 dalam Bestian, 1996). Menurut Affandi dan Usman (2002), ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. Pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh pada ikan ini disebut osmoregulasi.

Menurut Gilles dan Jeuniaux (1979), Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi dalam dua cara yang berbeda, yaitu :
1. Usaha untuk menjaga konsentrasi osmotik cairan di luar sel (ekstraseluler). Agar tetap konstan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.
2. Usaha untuk memelihara isoomotik cairan dalm sel (interseluler) terhadap cairan luar sel (ekstraseluler).

Menurut Affandi dan Usman (2002), ikan bertulang sejati (telestei), ikan air tawar maupun ikan laut pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mempertahankan komposisi ion-ion dan osmolaritas cairan tubuhnya pada tingkat yang secara signifikan berbeda dari lingkungan eksternalnya. Proses ini merupakan suatu mekanisme dasar osmotik. Untuk menghadapi masalah osmoregulasi hewan melakukan pengaturan tekanan osmotiknya dengan cara :
1. Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan lingkungannya.
2. Mengurangi permeabilitas air dan garam.
3. Melakukan pengambilan garam secara selektif

Osmoregulasi pada ikan air tawar melibatkan pengambilan ion dari lingkungan untuk membatasi kehilangan ion. Air akan masuk ke tubuh ikan karena kondisi tubuhnya hipertonik, shingga ikan banyak mengeksresikan air dan menahan ion (Boyd, 1990 dalam Arista, 2001)

Menurut Affandi dan Usman (2002), organisme air dibagi menjadi dua kategori sehubungan dengan mekanisme fisiologisnya dalam menghadapi tekanan osmotik air media, yaitu :
1. Osmonkonformer; adalah organisme air yang secara osmotik labil dan mengubah-ubah tekanan osmotik cairan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan tekanan osmotik air media hidupnya.
2. Osmoregulator, adalah organisme air yang secara osmotik stabil (mantap), selalu berusaha mempertahankan cairan tubuhnya pada tekanan osmotik yang relatif konstan, tidak perlu harus sama dengan tekanan osmotik air media hidupnya.

Secara umum dikatakan bahwa cairan tubuh golongan ikan elasmobranchii mempunyai tekanan osmotik yang lebih besar dari lingkungannya. Tekanan osmotik tubuhnya sebagian besar tidak disebabkan oleh garam-garam, melainkan oleh tingginya kadar urea dan Tri Meilamin Oksida (TMAO) dari tubuh. Karena cairan tubuh yang hiperosmotik terhadap lingkungannya, golongan ikan ini cenderung menerima air lewat difusi, terutama lewat insang. Untuk mempertahankan tekanan osmotiknya kelebihan air untuk difusi ini dikeluarkan melalui air seni (Affandi dan Usman, 2002).

Menurut Bond (1979) dalam Affandi dan Usman (2002) bahwa osmoregulasi pada ikan-ikan elasmobranchii menyokong teori bahwa tekanan osmosis yang disebabkan oleh garam-garam dalam darah disebabkan oleh penahan urea dan sedikit bahan bernitrogen lainnya. Urea merupakan hasil akhir metabolisme nitrogen yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan air kencing hiu dan pari. Sewaktu penyaringan glomerulus melalui sepanjang tubuh ginjal, segmen-segmen khusus menyerap kembali urea (70 hingga 90 %), sehingga darah mengandung lebih kurang 350 mmol/l urea daelasmobranchii umumnya.

Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).

Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus

Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).

Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.

Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et al, 1990 dalam Arifin, 1995).

Read More......

Wednesday, March 7, 2007

Variabel lingkungan pada Fisiologi Hewan Akuatik

Variabel lingkungan yang mempengaruhi organisme aquatik yaitu :
(1) Suhu
Perubahan suhu secara fluktuatif akan menyebabkan pengaruh terhadap fisiologi hewan air.
Kenaikan suhu menyebabkan laju konsumsi dan metabolisme meningkat.
Penurunan suhu menyebabkan penghambatan proses fisiologi bahkan dapat menyebabkan kematian.

(2) Pencemaran. ex : deterjen
Dapat menurunkan pertumbuhan serta mengurangi kealngsungan hidup ikan dan daya tarik terhadap pakan.
Menurut Olsen and Hoglund surfaktan dalam deterjen dapat mempengaruhi daya gerak ikan.

(3) PH perairan
Perairan yang kadar asamnya tinggi (pH rendah) dapt menggangu proses fisiologi pada insang.

>>>>to be continue>>>>


Read More......

AQUACULTURE is SOLUTIONS of The WORLD



Aquaculture is solutions to provides protein of the world and developments agribusiness.
As the fastest-growing food production sector in the world, modern aquaculture is maturing, with its emphasis shifting from the development of production technologies to assurance of longer-term economic and environmental sustainability. Fish is an essential food source for mankind. It is mankind's largest source of animal protein (16%) and makes up an even higher propotion in areas where high quality protein is relatively scarce (21% overall in low-income food deficit contries). Almost 1 billion people rely upon fish as their primary source of animal protein. Aquaculture has provided a vitally important role in expanding supplies of limited aquatic food resources. Aquaculture has been growing almost six times faster in developing countries than in developed countries and FAO has stated that as an inexpensive source of a higly nutrition animal protein, aquaculture has become an important factor.
GO!!!!!! Aquaculture
GO!!!!!!
Himakua (Aquaculture Community)

Read More......