Monday, June 11, 2007

GINOGENESIS Ikan Lele (Clarias Sp)

Pendahuluan

Partenogenesis adalah satu-satunya proses reproduksi yang sama sekali tak memerlukan peran pejantan. Keturunan partenogenesis akan betina semua jika dua kromosom yang sama membentuk jenis kelamin betina (sistem kromosomnya XX adalah betina dan XY jantan), salah satunya adalah ginogenesis.
Ginogenesis adalah proses terbentuknya zigot dari gamet betina tanpa kontribusi dari gamet jantan. Dalam ginogenesis gamet jantan hanya berfungsi untuk merangsang perkembangan telur dan sifat-sifat genetisnya tidak diturnkan. Ginogenesis dapat terjadi secara alami dan buatan.
Ginogenesis buatan dapat dilakukan dengan mutagenesis sperma dengan sinar ultraviolet (UV) dan kejutan panas. Radiasi yang terjadi merupakan proses penyinaran dengan menggunakan bahan mutagen untuk menghasilkan mutan. Sinar ultraviolet (UV) merupakan radiasi yang juga merupakan sinar tidak tampak yang mempunyai panjang gelombang 200-380 nm.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari teknik ginogenesis dengan kejutan panas.

Metodologi Ginogenesis

Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain : akuarium, pemanas air, stop watch, termometer, lempengan kaca, bulu ayam, mangkuk atau baskom, kertas tissue, alat bedah, rak plastik, box UV, dan aerator. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan meliputi : induk ikan lele jantan dan betina, larutan fisiologis, dan ovaprime.
Pertama-tama dengan menyuntikan ovaprime pada induk lele baik jantan dan betina. Tujuan penyuntikan yaitu agar gonad menjadi cepat matang. Selanjutnya, dilakukan stripping (pengurutan) terhadap induk betina lele untuk menmengeluarkan sel telur. Sedangkan induk jantan, perutnya dibedah untuk diambil gonadnya.yang berisi sperma. Kemudian materi genetik dalam sperma ikan lele dinonaktifkan dengan sinar ultraviolet (UV). Selanjutnya, menentukan waktu yang tepat ketika materi genetik dalam sperma mati tetapi sperma tersebut masih motil. Setelah mendapatkan sel telur dan sperma, keduanya direndam terlebih dahulu dengan menggunakan larutan fisiologis. Kemudian sperma dan ovum dicampur dalam mangkuk dan dikocok dengan pelan menggunakan bulu ayam.
Menyiapkan tiga akuarium yang mempunyai suhu yang berbeda pada akuarium kedua. Akuarium yang pertama dan ketiga merupakan akuarium dengan suhu ruang. Sedangkan suhu pada akuarium kedua, yaitu dengan membuat suhu akuarium menjadi 40oC. 400-500 butir telur dibagi ke dalam lempeng-lempeng kaca yang di letakkan ke dalam akuarium satu. Menunggu selama 2,5 menit dari awal pembuahan, lalu telur yang menempel dalam lempengan kaca diletakkan dalam rak plastik untuk memudahkan pemindahan. Lempengan kaca ini berfungsi sebagai tempat melekatnya sel telur. Kemudian memasukkan ke dalam akuarium kedua dan dibiarkan selama 3 menit. Lalu memindahkannya ke akuarium ketiga. Selanjutnya dipindahkan ke akuarium pemeliharaan yang telah diberi methylen blue dan diaerasi. Ikan perlakuan dipelihara hingga menjadi larva atau benih dan siap diamati tingkat keberhasilannya.

Pembahasan

Ginogenesis merupakan keturunan yang dihasilkan melaui mekanisme partenogenesis, tapi telur membutuhkan rangsangan dari sperma untuk berkembang. Namun, sel sperma tidak menyumbangkan materi genetik apa pun pada anak.
Sebelum melakukan ginogenesis buatan dengankejutan suhu, dilakukan penyuntikan induk ikan lele (Clarias sp.) dengan Ovaprime, dengan tujuan mempercepat pematangan gonad. Menurut King dan young (2001) dalam Maftucha (2005), ovaprime merupakan produk yang mengandung 20µg D-Arg6, Pro9-Net sGnRH dan 10 mg domperidone per ml propylene glycol. Ovaprim telah teruji dan terbukti efektif pada ikan, dimana secar signifikan mendorong pematangan tanpa mempengaruhi kemampuan hidup dan fekunditas suatu ikan.
Proses selanjutnya adalah menghancurkan materi genetik sperma dengan sinar ultraviolet (UV), dengan tujuan menonaktifan material genetik sperma melalui radiasi dengan bahan mutagen sehingga sperma hanya mampu merangsang perkembangan telur tanpa menurunkan sifat genetik. Dunham (2004) dalam Yusrizal (2004) menyatakan bahwa bahan mutagen yang dapat merusak gen pada sperma ada bermacam-macam yaitu sinar gamma, sinar ultraviolet (UV), dan sinar X.
Setelah peradiasian sinar UV dilakukan pengecekan sperma. Hal tersebut untuk melihat motilitas sperma. Jika sperma motil tanpa materi genetik di dalamnya maka dapat dilakukan perlakuan ginogenesis selanjutnya. Jika sperma itu nonmotil atau mati maka ginogenesis tidak dapat terjadi yang terjadi hanya diploidisasi biasa.
Sel sperma motil tanpa materi genetik yang di dapat dicampurkan dengan sel telur. Tujuannya untuk melakukan pembuahan. Pada proses ini sperma bergerak mencari sel telur yang akan dibuahi.
Kemudian dilakukan kejutan suhu, perlakuan ini bertujuan untuk mencegah pengurangan kromosom betina pada proses perkembangan telur yang akhirnya dapat menghasilkan zigot yang diploid dan homozigot sebab pada dasarnya embrio ginogenetik adalah haploid (Purdom dan Lincoln, 1973 dalam Suhartono, 1992). Hollebecq et al., (1986) dalam Suhartono (1992) yang menyatakan bahwa pembentukkan diploid ginogenetik dengan menggunakan kejutan panas lebih baik dibandingkan dengan menggunakan kejutan dingin. Lama kejutan, suhu dan waktu awal kejutan yang diberikan setelah pembuahan untuk tiap jenis ikan berbeda-beda (Sumantadinata et al., 1990 dalam Suhartono, 1992)
Ginogenesis secara spontan dapat terjadi akibat tertahannya polar body II oleh spermatozoa. Hal ini disebabkan pada saat polar body II akan keluar bertabrakan dengan spermatozoa yang akan masuk ke dalam mikrofil sehingga polar body II tidak jadi keluar dan spermatozoa terpental keluar, akibatnya gamet jantan digantikan oleh polar body II sehingga ploidi tetap dua. Sedangkan pada ginogenesis buatan dilakukan dengan cara memanipulasi kromosom (Purdom, 1983 dalam Yusrizal, 2004). Menurut Sumantadinata et al., (1990) dalam Suhartono (1992) Diploid ginogenetik meiotik diperoleh dari tertahannya polar body II oleh kejutan panas pada saat meiosis kedua sedangkan diploid ginogenetik mitotik diperoleh akibat tertahannya pembelahan pertama sel sehingga sel yang terbentuk menjadi diploid.

Daftar Pustaka

Maftucha, Lulu. 2005. Pemijahan Secara Buatan Pada Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac. Dengan Penyuntikan Ovaprim. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Suhartono. 1992. Penampilan Generasi Kedua Ginogenetik Diploid Mitotik (G2N-Mitotik) Ikan Mas (Cyprinus carpio) Kumpay. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Yusrizal. 2004. Ginogenesis Ikan Sumatra (Puntius tetrazona; Blecker) Dengan Umur Zygot Yang Berbeda Pada Saat Kejutan Panas. Skripsis. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap anda dapat mencari di SEARCH pada akhir halaman web ini (paling bawah). Masukan keywordnya

Read More......

TRIPLOIDISASI pada Ikan Lele (Clarias sp)

Pendahuluan

Pengelolaan budidaya ikan (khususnya ikan lele) perlu memperhatikan efisiensi dan produktivitas usaha serta kualitas ikan. Hal ini harus diimbangi dengan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas induk maupun benih ikan mas. Saat ini disinyalir telah terjadi penurunan kualitas induk maupun benih ikan lele yang dipelihara oleh petani ikan. Beberapa usaha maupun penelitian telah dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas (produksi) dan perbaikan serta peningkatan kualitas genetik ikan lele seperti program seleksi, manipulasi jenis kelamin melalui perlakuan hormonal maupun manipulasi kromosom.
Poliploidisasi merupakan salah satu metode manipulasi kromosom untuk perbaikan dan peningkatan kualitas genetik ikan guna menghasilkan benih-benih ikan yang mempunyai keunggulan, antara lain: pertumbuhan cepat, toleransi terhadap lingkungan dan resisten terhadap penyakit. Induksi poliploid dalam budidaya ikan sangat menarik perhatian masyarakat petani ikan maupun para peneliti dibidang perikanan. Poliploidisasi pada ikan dapat dilakukan melalui perlakuan secara fisik seperti
melakukan kejutan (shocking) suhu baik panas maupun dingin, pressure (hydrostatic pressure) dan atau secara kimiawi untuk mencegah peloncatan polar body II atau pembelahan sel pertama pada telur terfertilisasi (Thorgaard, 1983; Yamazaki, 1983; Carman et al., 1992; Shepperd dan
Bromage, 1996 dalam Mukti, 2001 ).
Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi dengan proses atau kejadian terbentuknya individu dengan kromosom lebih dari dua set. Triploidisasi telah dilakukan dan digunakan untuk meningkatkan pertumbuh ikan.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari teknik triploidisasi dengan menggunakan pengaruh kejutan suhu panas terhadap keberhasilan poliploidisasi pada ikan lele.

Metodologi Triploidisasi

Alat-alat yang digunakan pada percobaan triploidisasi ikan lele antara lain : akuarium, pemanas air, stop watch, termometer, lempengan kaca, bulu ayam, mangkuk atau baskom, kertas tissue, alat bedah, rak plastik, dan aerator. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan meliputi : induk ikan Lele jantan dan betina, larutan fisiologis, dan ovaprime.

Pertama-tama dengan menyuntikan ovaprime pada induk lele baik jantan dan betina. Tujuan penyuntikan yaitu agar gonad menjadi cepat matang. Selanjutnya, dilakukan stripping (pengurutan) terhadap induk betina lele untuk menmengeluarkan sel telur. Sedangkan sel sperma didapatkan dari induk jantan dengan cara membedah ikan untuk diambil spermanya. Setelah mendapatkan sel telur dan sperma, keduanya direndam terlebih dahulu dengan menggunakan larutan fisiologis. Kemudian sperma dan ovum dicampur dalam mangkuk dan dikocok dengan pelan menggunakan bulu ayam.
Menyiapkan tiga akuarium yang mempunyai suhu yang berbeda pada akuarium kedua. Akuarium yang pertama dan ketiga merupakan akuarium dengan suhu ruang. Sedangkan suhu pada akuarium kedua, yaitu dengan membuat suhu akuarium menjadi 40oC. 400-500 butir telur dibagi ke dalam lempeng-lempeng kaca yang di letakkan ke dalam akuarium satu. Menunggu selama 2,5 menit dari awal pembuahan, lalu telur yang menempel dalam lempengan kaca diletakkan dalam rak plastik untuk memudahkan pemindahan. Lempengan kaca ini berfungsi sebagai tempat melekatnya sel telur. Kemudian memasukkan ke dalam akuarium kedua dan dibiarkan selama 3 menit. Lalu memindahkannya ke akuarium ketiga. Selanjutnya dipindahkan ke akuarium pemeliharaan yang telah diberi methylen blue dan diaerasi. Ikan perlakuan dipelihara hingga menjadi larva atau benih dan siap diamati tingkat keberhasilannya.

Pembahasan

Triploidisasi merupakan salah satu bagian dari ploidisasi dengan proses atau kejadian terbentuknya individu dengan kromosom lebih dari dua set. Triploidisasi telah dilakukan dan digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
Teknik triploidisasi dapat mengunakan dua pelakuan, yaitu perlakuan fisika dan kimia. Menurut Arai (2001) dalam Risnandar (2001) penggunaan perlakuan fisika dan kimia sesaat setelah dimulainya pembuahan merupakan cara yang relatif mudah dalam triploidisasi. Namun, yang biasa dilakukan adalah perlakuan fisika. Perlakuan kimia menggunakan sitokalasin B atau bahan kimia lain jarang dilakukan.
Di antara perlakuan fisika, kejutan suhu telah digunakan secara luas (Carman, 1990 dalam Risnandar, 2001). Hal ini disebabkan karena kejutan suhu mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Kejutan suhu ini bisa berupa kejutan yang lebih dingin dari suhu normal. Menurut Chourrout (1986) dalam Risnandar (2001), kejutan panas mempunyai kepraktisan yaitu dapat dilakukan untuk telur dalam jumlah yang besar, untuk usaha komersil. Di samping itu kejutan panas mudah dilakukan dan tidak membutuhkan keahlian khusus. Purdom (1983) dalam Risnandar (2001) menambahkan bahwa kejutan panas juga memerlukan waktu yang lebih singkat daripada kejutan dingin.
Thorgaard (1983) dalam Mukti (2001) menjelaskan, pendekatan praktis untuk induksi poliploidi melalui kejutan panas merupakan perlakuan aplikatif sesaat setelah fertilisasi (untuk induksi triploidi) atau sesaat setelah pembelahan pertama (untuk induksi tetraploidi) pada suhu lethal. Kejutan suhu selain murah dan mudah juga efisien dapat dilakukan dalam jumlah banyak (Rustidja, 1991 dalam Mukti, 2001).
Don dan Avtalion dalam Risnandar (2001), menyatakan bahwa tiga parameter yang berhubungan dengan perlakuan kejutan panas adalah umur zigot waktu pelaksanaan kejutan, suhu kejutan dan lama perlakuan kejutan. Pemilihan umur zigot waktu pelaksanaan, suhu dan lama waktu kejutan yang tepat adalah spesifik untuk masing-masing spesies (Carman, 1990 dalam Risnandar, 2001).
Prinsip pemberian kejutan suhu pada telur yang telah dibuahi adalah mencegahnya keluarnya badan kutub II pada saat pembelahan meiosis II. Dengan demikian kromosom telur yang telah diploid ditambah seperangkat (Purdom, 1983 dalam Risnandar, 2001), sehingga menjadi tiga perangkat.
Ikan-ikan triploid merupakan ikan-ikan secara genetik mempunyai satu set tambahan kromosom, sehingga pada setiap sel tubuhnya memiliki tiga set kromosom. Dua set kromosom adalah kromosom telur dan satu set kromosom sperma (Allen, 1987 dalam Risnandar, 2001)
Suryo (1990) dalam Mukti (2001) menjelaskan bahwa individu tetraploid merupakan individu yang fertil dan mempunyai laju pertumbuhan yang lebih baik bila dibandingkan dengan spesies diploid. Individu tetraploid mempunyai kemampuan di dalam pembelahan sel yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan normal diploid, sehingga ikan tetraploid akan mempunyai jumlah sel yang lebih banyak jika dibandingkan dengan ikan normal.

Daftar Pustaka

Mukti, Ahmad Taufiq, Rustidja , Sutiman Bambang Sumitro dan Mohammad Sasmito Djati. 2001. Poliploidisasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.). Biosain, Volume. 1 No. 1

Risnandar, Dian. 2001. Pengaruh Umur Zigot Pada Saat Kejutan Panas Terhadap Tingkat Keberhasilan Triploidisasi, Serta Kelangsungan Hidup Embrio Dan Larva Ikan Jambal Siam (Pangasius hypophthalmus). Skripsi. Program studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap tentang Triploidisasi anda dapat mencari di SEARCH pada akhir halaman web ini (paling bawah). Masukan keywordnya

Read More......

Tuesday, May 8, 2007

Pemeriksaan Gonad Ikan

Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah penting. Karena hal tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam kegiatan budidaya, termasuk dalam merekayasa utnuk mendapatkan produksi ikan yang maksimum. Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan untuk menguji hasil ginogenesis dan androgenesis.
Teknik pembedaan jenis kelamin dapat dilakukan dengan pewarnaan gonad menggunakan larutan asetokarmin. Larutan ini berfungsi untuk memudahkan identifikasi gonad ikan. Metoda ini memiliki beberapa kelebihan antara lain praktis, mudah, tidak perlu peralatan khusus dan relatif murah. Identifikasi gonad untuk ikan dewasa dapat dilakukan dengan mudah karena ukuran gonad yang relatif besar, namun untuk ikan kecil biasanya harus melalui metoda khusus. Penentuan jenis kelamin dipengaruhi oleh dua faktor yaitu lingkungan dan genetis.

Menurut Ronaldson dan Hunter, (1987) dalam Hendriana, (2006) perkembangan gonad atau oogenesis ialah transformasi oogonia menjadi oosit. Komponen utama oosit berasal dari senyawa vitelogenin berbobot tinggi berasal dari darah yang disintesis dalam hati.
Secara garis besar gonad dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad dan tahap pematangan gonad (Lagler et al., 1977 dalam Khum 1998). Dalam pertumbuhan gonad ini dapat ditentukan ciri-ciri gonad jantan dan betina secara hihistologis. Gonad betina atau ovarium berbentuk bulat dan oval. Di dalam lamella terdapat septa sebagai penunjang sitoplasma lebih tebal dan terdapat beberapa nukleus. Warna gonad kekuningan dan memiliki ukuran gonad lebih besar dari gonad jantan. Sedangkan gonad jantan didomonasi jaringan ikat dan terdapat tubulus seminifer. Gonad jantan berukuran lebih kecil dan menyebar merata serta berwarna lebih putih dari gonad betina (Syandri, 1996 dalam Kham 1998).
Penentuan tingkat kematangan gonad dapat dilakukan secara morfologis dan histologis. Tingkat secara morfologis dilihat dari bentuk, panjang, berat dan warna serta perkembangan gonad melalui fase perkembangan gonad (Effendie, 1997 dalam Siregar, 1999).
Perbedaan jenis kelamin ditentukan oleh faktor dalam dan luar. Faktor dalam berupa jenis kelamin dan hormon sedangkan faktor luar ditentukan oleh suhu, pakan, intensitas cahaya, pH, nitrogen dan metabolitnya, alkalinitas, kesadahan, dan zat buanganyang berbahaya bagi kehidupan ikan. Faktor luar yang sering dilakukan untuk menentukan jenis kelamin ikan dalam budidaya adalah pakan (Watanabe, 1984 dalam Kham, 1998). Kualitas pakan yang diberikan pada induk ikan akan mempengaruhi fekunditas, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap penentuan jenis kelamin adalah suhu. Suhu tinggi membuat masa sensitive ikan lebih cepat terjadi. Ini berarti ikan lebih senag memijah pada suhu tinggi. Suhu juga mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap diferensiasi kelamin.(Smith et al dalam Barmudi, 2005).
Menurt Nikolsky (1963) dalam Atmaja (2005) akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan. Ukuran ikan jika pertama kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan dan ketersediaan pakan (Effendie, 1997 dalam Atmaja, 2005).

Read More......

Thursday, April 26, 2007

Kontraksi Otot Jantung Ikan



Jantung merupakan suatu pembesaranotot yang spesifik dari pembuluh darah atau suatu struktur muskular yang bentuknya menyerupai kerucut yang dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan terdapat di bagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut.


Jantung pada makhluk hidup berbeda-beda berdasarkan strukturnya. Jantung pada vertebrata misalnya ikan, mempunyai jantung yang terdiri dari dua kamar, yakni satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Jantung pada ikan amphibia danreptil mempunyai 3 kamar utama yang terdiri dari 2 atrium dan1 ventrikel. Jantung pada manusia, mamalia dan burung mempunyai empat kamar yakni dua kamar antrium dan dua kama ventrikel
Ikan mempunyai degupan jantung sama seperti manusia. Ikan emas mempunyai purata 70 degupan jantung seminit. Manusia mempunyai purata antara 60 sehingga 100 degupan jantung seminit dalam keadaan mereka berehat. Anak ikan dan ikan yang kecil mempunyai degupan jantung yang lebih laju berbanding ikan tua dan besar. Degupan jantung ikan menjadi lambat apabila berada dalam air yang sejuk berbanding dalam air yang agak panas. Jangka hayat ikan bergantung kepada spesiesnya. Ada ikan yang hanya boleh hidup kurang setahun tetapi ada yang boleh hidup lebih 100 tahun.

Read More......

Tuesday, April 3, 2007

FLUKTUASI ASIMETRI

Fluktuasi asimetri adalah perbedaan antara karakter sisi kiri dan sisi kanan yang menyebar secara normal dengan rataan mendekati nol sebagai akibat dari ketidakmampuan individu untuk berkembang secara tepat dan normal (Van Valen, 1962).

Fluktuasi asimetri ini dapat merefleksikan dari perkembangan yang tidak stabil dari suatu individu organisme sehingga dapat menimbulkan perbedaan fenotip.

Pada ikan, peningkatan fluktuasi asimetri dapat diamati melalui jari-jari sirip perut, jari-jari sirip dada, tapis insang atas bagian bawah serta pori-pori rahang atau mandibular pores.
Dalam mengamati dan menganalisis perkembangan ketidakstabilan organisme, dapat menggunakan tekhnik fluktuasi asimetri karena relatif sederhana dan tidak memerlukan alat yang rumit. Fluktuasi asimetri merupakan tekhnik analisa perkembangan ketidakstabilan organisme melalui pendekatan heterozigositas yang dapat menunjukkan adanya perbedaan kestabilan perkembangan seperti halnya tekhnik elektroforesis dengan analisis jumlah loci heterozigot.


Menurut Koehn dan Shumwai in Leary, et. al. (1985) bahwa individu yang homozigot kurang efisien dalam memproduksi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang lambat, jumlah ciri m
eristik yang lebih kecil dan adanya asimetri.

Asimetri adalah perubahan ukuran bentuk dan jumlah ciri-ciri morfologis tubuh, yang meliputi sifat-sifat meristik dan morfometrik tubuh bagian kiri dan kanan (Leary et. al., 1983)

Asimetri terjadi karena adanya ketidakmampuan suatu organisme untuk berkembang secara normal dan dapat digunakan untuk mengukur homeostatis/stabilitas perkembangan individu yang homozigot dan heterozigot (Leary et. al., 1983 dan 1985). Individu heterozigot mempunyai tingkat stabilitas perkembangan yang tinggi (Soule; Vrinjenhoek and Lerman; Angus
and Schultz; Leary et.al. in Swain, 1987).

Analisa fluktuasi bilangan (Number) yaitu jumlah individu asimetri yang diketemukan dalam pengamatan dibagi dengan banyaknya sampel yang diamati.
Rumus :





Keterangan :
FAn = fluktuas
i asimetri bilangan
Zi = Jumlah individu asimetri untuk ciri meristik tertentu.
n = Jumlah seluruh sampel yang diamati

Fluktuasi asimetri bilan
gan besaran (Magnitude) yaitu nilai yang didapat dari jumlah selisih karakter yang diamati pada sebelah pada sebelah kiri dan kanan dibagi dengan total jumlah sampel yang diamati.
Rumus :

Keterangan :
FAm = fluktuasi asimetri besaran
Xi = Jumlah karakter sisi kiri
Yi = Jumlah karakter sisi kanan
N = Jumlah seluruh sampe
l yang diamati

Dari masing- masing karakter yang diamati dapat dicari nilai fluktuasi asimetri gabungan (Overali). Fluktuasi asimetri gabungan merupakan hasil penjumlahan nilai fluktuasi asimetri dari semua karakter meristik bilateral yang diamati.
Rumus : FAgab = FAn + Fam
Keterangan :
FAgab = fluktuasi asimetri besaran
FAn = fluktuasi asimetri bilangan
FAm = fluktuasi asimetri besaran



Read More......