Tuesday, May 8, 2007

Pemeriksaan Gonad Ikan

Pemeriksaan jenis kelamin dalam budidaya sangatlah penting. Karena hal tersebut menentukan dalam proses-proses selanjutnya dalam kegiatan budidaya, termasuk dalam merekayasa utnuk mendapatkan produksi ikan yang maksimum. Selain itu, identifikasi dan pembedaan jenis kelamin ini dapat digunakan untuk menguji hasil ginogenesis dan androgenesis.
Teknik pembedaan jenis kelamin dapat dilakukan dengan pewarnaan gonad menggunakan larutan asetokarmin. Larutan ini berfungsi untuk memudahkan identifikasi gonad ikan. Metoda ini memiliki beberapa kelebihan antara lain praktis, mudah, tidak perlu peralatan khusus dan relatif murah. Identifikasi gonad untuk ikan dewasa dapat dilakukan dengan mudah karena ukuran gonad yang relatif besar, namun untuk ikan kecil biasanya harus melalui metoda khusus. Penentuan jenis kelamin dipengaruhi oleh dua faktor yaitu lingkungan dan genetis.

Menurut Ronaldson dan Hunter, (1987) dalam Hendriana, (2006) perkembangan gonad atau oogenesis ialah transformasi oogonia menjadi oosit. Komponen utama oosit berasal dari senyawa vitelogenin berbobot tinggi berasal dari darah yang disintesis dalam hati.
Secara garis besar gonad dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pertumbuhan gonad dan tahap pematangan gonad (Lagler et al., 1977 dalam Khum 1998). Dalam pertumbuhan gonad ini dapat ditentukan ciri-ciri gonad jantan dan betina secara hihistologis. Gonad betina atau ovarium berbentuk bulat dan oval. Di dalam lamella terdapat septa sebagai penunjang sitoplasma lebih tebal dan terdapat beberapa nukleus. Warna gonad kekuningan dan memiliki ukuran gonad lebih besar dari gonad jantan. Sedangkan gonad jantan didomonasi jaringan ikat dan terdapat tubulus seminifer. Gonad jantan berukuran lebih kecil dan menyebar merata serta berwarna lebih putih dari gonad betina (Syandri, 1996 dalam Kham 1998).
Penentuan tingkat kematangan gonad dapat dilakukan secara morfologis dan histologis. Tingkat secara morfologis dilihat dari bentuk, panjang, berat dan warna serta perkembangan gonad melalui fase perkembangan gonad (Effendie, 1997 dalam Siregar, 1999).
Perbedaan jenis kelamin ditentukan oleh faktor dalam dan luar. Faktor dalam berupa jenis kelamin dan hormon sedangkan faktor luar ditentukan oleh suhu, pakan, intensitas cahaya, pH, nitrogen dan metabolitnya, alkalinitas, kesadahan, dan zat buanganyang berbahaya bagi kehidupan ikan. Faktor luar yang sering dilakukan untuk menentukan jenis kelamin ikan dalam budidaya adalah pakan (Watanabe, 1984 dalam Kham, 1998). Kualitas pakan yang diberikan pada induk ikan akan mempengaruhi fekunditas, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap penentuan jenis kelamin adalah suhu. Suhu tinggi membuat masa sensitive ikan lebih cepat terjadi. Ini berarti ikan lebih senag memijah pada suhu tinggi. Suhu juga mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap diferensiasi kelamin.(Smith et al dalam Barmudi, 2005).
Menurt Nikolsky (1963) dalam Atmaja (2005) akibat adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan, maka ikan-ikan muda yang berasal dari telur yang menetas pada waktu yang bersamaam akan mencapai tingkat kematangan gonad pada umur yang berlainan. Ukuran ikan jika pertama kali matang gonad tidak selalu sama, disebabkan antara lain oleh suhu air dan dan ketersediaan pakan (Effendie, 1997 dalam Atmaja, 2005).

Read More......

Thursday, April 26, 2007

Kontraksi Otot Jantung Ikan



Jantung merupakan suatu pembesaranotot yang spesifik dari pembuluh darah atau suatu struktur muskular yang bentuknya menyerupai kerucut yang dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan terdapat di bagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut.


Jantung pada makhluk hidup berbeda-beda berdasarkan strukturnya. Jantung pada vertebrata misalnya ikan, mempunyai jantung yang terdiri dari dua kamar, yakni satu serambi (atrium) dan satu bilik (ventrikel). Jantung pada ikan amphibia danreptil mempunyai 3 kamar utama yang terdiri dari 2 atrium dan1 ventrikel. Jantung pada manusia, mamalia dan burung mempunyai empat kamar yakni dua kamar antrium dan dua kama ventrikel
Ikan mempunyai degupan jantung sama seperti manusia. Ikan emas mempunyai purata 70 degupan jantung seminit. Manusia mempunyai purata antara 60 sehingga 100 degupan jantung seminit dalam keadaan mereka berehat. Anak ikan dan ikan yang kecil mempunyai degupan jantung yang lebih laju berbanding ikan tua dan besar. Degupan jantung ikan menjadi lambat apabila berada dalam air yang sejuk berbanding dalam air yang agak panas. Jangka hayat ikan bergantung kepada spesiesnya. Ada ikan yang hanya boleh hidup kurang setahun tetapi ada yang boleh hidup lebih 100 tahun.

Read More......

Tuesday, April 3, 2007

FLUKTUASI ASIMETRI

Fluktuasi asimetri adalah perbedaan antara karakter sisi kiri dan sisi kanan yang menyebar secara normal dengan rataan mendekati nol sebagai akibat dari ketidakmampuan individu untuk berkembang secara tepat dan normal (Van Valen, 1962).

Fluktuasi asimetri ini dapat merefleksikan dari perkembangan yang tidak stabil dari suatu individu organisme sehingga dapat menimbulkan perbedaan fenotip.

Pada ikan, peningkatan fluktuasi asimetri dapat diamati melalui jari-jari sirip perut, jari-jari sirip dada, tapis insang atas bagian bawah serta pori-pori rahang atau mandibular pores.
Dalam mengamati dan menganalisis perkembangan ketidakstabilan organisme, dapat menggunakan tekhnik fluktuasi asimetri karena relatif sederhana dan tidak memerlukan alat yang rumit. Fluktuasi asimetri merupakan tekhnik analisa perkembangan ketidakstabilan organisme melalui pendekatan heterozigositas yang dapat menunjukkan adanya perbedaan kestabilan perkembangan seperti halnya tekhnik elektroforesis dengan analisis jumlah loci heterozigot.


Menurut Koehn dan Shumwai in Leary, et. al. (1985) bahwa individu yang homozigot kurang efisien dalam memproduksi energi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang lambat, jumlah ciri m
eristik yang lebih kecil dan adanya asimetri.

Asimetri adalah perubahan ukuran bentuk dan jumlah ciri-ciri morfologis tubuh, yang meliputi sifat-sifat meristik dan morfometrik tubuh bagian kiri dan kanan (Leary et. al., 1983)

Asimetri terjadi karena adanya ketidakmampuan suatu organisme untuk berkembang secara normal dan dapat digunakan untuk mengukur homeostatis/stabilitas perkembangan individu yang homozigot dan heterozigot (Leary et. al., 1983 dan 1985). Individu heterozigot mempunyai tingkat stabilitas perkembangan yang tinggi (Soule; Vrinjenhoek and Lerman; Angus
and Schultz; Leary et.al. in Swain, 1987).

Analisa fluktuasi bilangan (Number) yaitu jumlah individu asimetri yang diketemukan dalam pengamatan dibagi dengan banyaknya sampel yang diamati.
Rumus :





Keterangan :
FAn = fluktuas
i asimetri bilangan
Zi = Jumlah individu asimetri untuk ciri meristik tertentu.
n = Jumlah seluruh sampel yang diamati

Fluktuasi asimetri bilan
gan besaran (Magnitude) yaitu nilai yang didapat dari jumlah selisih karakter yang diamati pada sebelah pada sebelah kiri dan kanan dibagi dengan total jumlah sampel yang diamati.
Rumus :

Keterangan :
FAm = fluktuasi asimetri besaran
Xi = Jumlah karakter sisi kiri
Yi = Jumlah karakter sisi kanan
N = Jumlah seluruh sampe
l yang diamati

Dari masing- masing karakter yang diamati dapat dicari nilai fluktuasi asimetri gabungan (Overali). Fluktuasi asimetri gabungan merupakan hasil penjumlahan nilai fluktuasi asimetri dari semua karakter meristik bilateral yang diamati.
Rumus : FAgab = FAn + Fam
Keterangan :
FAgab = fluktuasi asimetri besaran
FAn = fluktuasi asimetri bilangan
FAm = fluktuasi asimetri besaran



Read More......

Monday, March 26, 2007

Osmoregulasi , ikan uji : ikan nila dan ikan mas

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah total material pada dalam gram yang terdapat dalam 1 kg air laut, dimana seluruh karbonat telah dikonversi menjai oksida, bromida dan iodida diganti oleh klorin dan seluruh materi organik telah dioksidasi sempurna (Sverdrup et. al, 1942).

Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion yang melewati insang dan pada beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam (Stickney, 1979 dalam Bestian, 1996). Sedangkan menurut Kinne (1964) dalam Bestian (1996), kemampuan osmoregulasi bervariasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip.

Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal (Raharjo, 1970 dalam Bestian, 1996). Menurut Affandi dan Usman (2002), ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. Pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh pada ikan ini disebut osmoregulasi.

Menurut Gilles dan Jeuniaux (1979), Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi dalam dua cara yang berbeda, yaitu :
1. Usaha untuk menjaga konsentrasi osmotik cairan di luar sel (ekstraseluler). Agar tetap konstan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.
2. Usaha untuk memelihara isoomotik cairan dalm sel (interseluler) terhadap cairan luar sel (ekstraseluler).

Menurut Affandi dan Usman (2002), ikan bertulang sejati (telestei), ikan air tawar maupun ikan laut pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mempertahankan komposisi ion-ion dan osmolaritas cairan tubuhnya pada tingkat yang secara signifikan berbeda dari lingkungan eksternalnya. Proses ini merupakan suatu mekanisme dasar osmotik. Untuk menghadapi masalah osmoregulasi hewan melakukan pengaturan tekanan osmotiknya dengan cara :
1. Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan lingkungannya.
2. Mengurangi permeabilitas air dan garam.
3. Melakukan pengambilan garam secara selektif

Osmoregulasi pada ikan air tawar melibatkan pengambilan ion dari lingkungan untuk membatasi kehilangan ion. Air akan masuk ke tubuh ikan karena kondisi tubuhnya hipertonik, shingga ikan banyak mengeksresikan air dan menahan ion (Boyd, 1990 dalam Arista, 2001)

Menurut Affandi dan Usman (2002), organisme air dibagi menjadi dua kategori sehubungan dengan mekanisme fisiologisnya dalam menghadapi tekanan osmotik air media, yaitu :
1. Osmonkonformer; adalah organisme air yang secara osmotik labil dan mengubah-ubah tekanan osmotik cairan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan tekanan osmotik air media hidupnya.
2. Osmoregulator, adalah organisme air yang secara osmotik stabil (mantap), selalu berusaha mempertahankan cairan tubuhnya pada tekanan osmotik yang relatif konstan, tidak perlu harus sama dengan tekanan osmotik air media hidupnya.

Secara umum dikatakan bahwa cairan tubuh golongan ikan elasmobranchii mempunyai tekanan osmotik yang lebih besar dari lingkungannya. Tekanan osmotik tubuhnya sebagian besar tidak disebabkan oleh garam-garam, melainkan oleh tingginya kadar urea dan Tri Meilamin Oksida (TMAO) dari tubuh. Karena cairan tubuh yang hiperosmotik terhadap lingkungannya, golongan ikan ini cenderung menerima air lewat difusi, terutama lewat insang. Untuk mempertahankan tekanan osmotiknya kelebihan air untuk difusi ini dikeluarkan melalui air seni (Affandi dan Usman, 2002).

Menurut Bond (1979) dalam Affandi dan Usman (2002) bahwa osmoregulasi pada ikan-ikan elasmobranchii menyokong teori bahwa tekanan osmosis yang disebabkan oleh garam-garam dalam darah disebabkan oleh penahan urea dan sedikit bahan bernitrogen lainnya. Urea merupakan hasil akhir metabolisme nitrogen yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan air kencing hiu dan pari. Sewaktu penyaringan glomerulus melalui sepanjang tubuh ginjal, segmen-segmen khusus menyerap kembali urea (70 hingga 90 %), sehingga darah mengandung lebih kurang 350 mmol/l urea daelasmobranchii umumnya.

Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).

Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus

Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).

Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.

Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et al, 1990 dalam Arifin, 1995).

Read More......

Jilatan Api berlafal Allah Pada Ledakan Sumur Lapindo


Jilatan api pipa gas Pertamina di Lapindo yang berbentuk lafal Allah
Fotografer: Budi Sugiharto
Samuel Johnson Sutanto menjepret jilatan api ledakan pipa gas Pertamina di lumpur Lapindo berkali-kali. Salah satunya yang ditunjukkan memperlihatkan jilatan api berlafal Allah.

Memang jika dilihat sekilas, foto jilatan api itu terkesan biasa. Namun jika foto itu dicermati dan diteliti lebih lama, memang terlihat jilatan apinya membentuk lafal Allah dan kuda laut. Allahu Akbar...!!!


Read More......