Monday, March 26, 2007

Osmoregulasi , ikan uji : ikan nila dan ikan mas

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah total material pada dalam gram yang terdapat dalam 1 kg air laut, dimana seluruh karbonat telah dikonversi menjai oksida, bromida dan iodida diganti oleh klorin dan seluruh materi organik telah dioksidasi sempurna (Sverdrup et. al, 1942).

Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion yang melewati insang dan pada beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam (Stickney, 1979 dalam Bestian, 1996). Sedangkan menurut Kinne (1964) dalam Bestian (1996), kemampuan osmoregulasi bervariasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip.

Osmoregulasi adalah pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak bagi kehidupan ikan sehingga proses-proses fisiologis berjalan normal (Raharjo, 1970 dalam Bestian, 1996). Menurut Affandi dan Usman (2002), ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. Pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh pada ikan ini disebut osmoregulasi.

Menurut Gilles dan Jeuniaux (1979), Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi dalam dua cara yang berbeda, yaitu :
1. Usaha untuk menjaga konsentrasi osmotik cairan di luar sel (ekstraseluler). Agar tetap konstan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.
2. Usaha untuk memelihara isoomotik cairan dalm sel (interseluler) terhadap cairan luar sel (ekstraseluler).

Menurut Affandi dan Usman (2002), ikan bertulang sejati (telestei), ikan air tawar maupun ikan laut pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mempertahankan komposisi ion-ion dan osmolaritas cairan tubuhnya pada tingkat yang secara signifikan berbeda dari lingkungan eksternalnya. Proses ini merupakan suatu mekanisme dasar osmotik. Untuk menghadapi masalah osmoregulasi hewan melakukan pengaturan tekanan osmotiknya dengan cara :
1. Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan lingkungannya.
2. Mengurangi permeabilitas air dan garam.
3. Melakukan pengambilan garam secara selektif

Osmoregulasi pada ikan air tawar melibatkan pengambilan ion dari lingkungan untuk membatasi kehilangan ion. Air akan masuk ke tubuh ikan karena kondisi tubuhnya hipertonik, shingga ikan banyak mengeksresikan air dan menahan ion (Boyd, 1990 dalam Arista, 2001)

Menurut Affandi dan Usman (2002), organisme air dibagi menjadi dua kategori sehubungan dengan mekanisme fisiologisnya dalam menghadapi tekanan osmotik air media, yaitu :
1. Osmonkonformer; adalah organisme air yang secara osmotik labil dan mengubah-ubah tekanan osmotik cairan tubuhnya untuk menyesuaikan dengan tekanan osmotik air media hidupnya.
2. Osmoregulator, adalah organisme air yang secara osmotik stabil (mantap), selalu berusaha mempertahankan cairan tubuhnya pada tekanan osmotik yang relatif konstan, tidak perlu harus sama dengan tekanan osmotik air media hidupnya.

Secara umum dikatakan bahwa cairan tubuh golongan ikan elasmobranchii mempunyai tekanan osmotik yang lebih besar dari lingkungannya. Tekanan osmotik tubuhnya sebagian besar tidak disebabkan oleh garam-garam, melainkan oleh tingginya kadar urea dan Tri Meilamin Oksida (TMAO) dari tubuh. Karena cairan tubuh yang hiperosmotik terhadap lingkungannya, golongan ikan ini cenderung menerima air lewat difusi, terutama lewat insang. Untuk mempertahankan tekanan osmotiknya kelebihan air untuk difusi ini dikeluarkan melalui air seni (Affandi dan Usman, 2002).

Menurut Bond (1979) dalam Affandi dan Usman (2002) bahwa osmoregulasi pada ikan-ikan elasmobranchii menyokong teori bahwa tekanan osmosis yang disebabkan oleh garam-garam dalam darah disebabkan oleh penahan urea dan sedikit bahan bernitrogen lainnya. Urea merupakan hasil akhir metabolisme nitrogen yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan di dalam hati dan cuma sedikit saja yang dikeluarkan air kencing hiu dan pari. Sewaktu penyaringan glomerulus melalui sepanjang tubuh ginjal, segmen-segmen khusus menyerap kembali urea (70 hingga 90 %), sehingga darah mengandung lebih kurang 350 mmol/l urea daelasmobranchii umumnya.

Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).

Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus

Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah antero posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).

Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.

Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et al, 1990 dalam Arifin, 1995).

Read More......

Jilatan Api berlafal Allah Pada Ledakan Sumur Lapindo


Jilatan api pipa gas Pertamina di Lapindo yang berbentuk lafal Allah
Fotografer: Budi Sugiharto
Samuel Johnson Sutanto menjepret jilatan api ledakan pipa gas Pertamina di lumpur Lapindo berkali-kali. Salah satunya yang ditunjukkan memperlihatkan jilatan api berlafal Allah.

Memang jika dilihat sekilas, foto jilatan api itu terkesan biasa. Namun jika foto itu dicermati dan diteliti lebih lama, memang terlihat jilatan apinya membentuk lafal Allah dan kuda laut. Allahu Akbar...!!!


Read More......

Wednesday, March 7, 2007

Variabel lingkungan pada Fisiologi Hewan Akuatik

Variabel lingkungan yang mempengaruhi organisme aquatik yaitu :
(1) Suhu
Perubahan suhu secara fluktuatif akan menyebabkan pengaruh terhadap fisiologi hewan air.
Kenaikan suhu menyebabkan laju konsumsi dan metabolisme meningkat.
Penurunan suhu menyebabkan penghambatan proses fisiologi bahkan dapat menyebabkan kematian.

(2) Pencemaran. ex : deterjen
Dapat menurunkan pertumbuhan serta mengurangi kealngsungan hidup ikan dan daya tarik terhadap pakan.
Menurut Olsen and Hoglund surfaktan dalam deterjen dapat mempengaruhi daya gerak ikan.

(3) PH perairan
Perairan yang kadar asamnya tinggi (pH rendah) dapt menggangu proses fisiologi pada insang.

>>>>to be continue>>>>


Read More......

AQUACULTURE is SOLUTIONS of The WORLD



Aquaculture is solutions to provides protein of the world and developments agribusiness.
As the fastest-growing food production sector in the world, modern aquaculture is maturing, with its emphasis shifting from the development of production technologies to assurance of longer-term economic and environmental sustainability. Fish is an essential food source for mankind. It is mankind's largest source of animal protein (16%) and makes up an even higher propotion in areas where high quality protein is relatively scarce (21% overall in low-income food deficit contries). Almost 1 billion people rely upon fish as their primary source of animal protein. Aquaculture has provided a vitally important role in expanding supplies of limited aquatic food resources. Aquaculture has been growing almost six times faster in developing countries than in developed countries and FAO has stated that as an inexpensive source of a higly nutrition animal protein, aquaculture has become an important factor.
GO!!!!!! Aquaculture
GO!!!!!!
Himakua (Aquaculture Community)

Read More......